Jakarta – Tidur seranjang dengan perempuan ternyata bisa membuat kemampuan otak pria berkurang.
Demikian hasil penelitian terbaru ilmuwan Austria yang dilansir dari BBC, baru-baru ini.
Peneliti asal Austria ini mengadakan penelitian tentang kualitas tidur. Para peneliti mengumpulkan 20 pasangan yang belum dikaruniai anak. Ke-20 pasangan ini kemudian diperiksa pola tidurnya.
Tiap pasangan diminta untuk tidur 10 hari tanpa pasangan, dan 10 hari bersama pasangan mereka. Setiap pagi mereka diberi kuisioner, diperiksa hormon stres, dan menjalani beberapa tes, termasuk tes kognitif ringan.
Seperti apa hasil tesnya?
Meski pria dan wanita sama-sama mengakui lebih nikmat tidur dengan pasangan, pada pria kemampuan otaknya sedikit terganggu. Setelah tidur dengan wanita, pria kurang sukses dalam menjawab tes-tes kognitif ringan.
Nilai yang diperoleh menjadi lebih rendah ketimbang ketika tes serupa dilakukan pada saat semalamnya pria tidur tanpa didampingi pasangan mereka. Apakah pasangan tersebut bercinta atau tidak pada malam sebelumnya, tak mempengaruhi hasil tes.
Menurut penelitian ini, ketika seorang pria tidur dengan pasangannya, secara tak sadar kualitas tidurnya menjadi terganggu. Hal inilah yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental mereka keesokan harinya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”seks”]
Tak hanya pria, kualitas tidur wanita juga terganggu ketika tidur bersama pasangannya, namun hasil tes koginitif wanita tetap lebih baik ketimbang rekan lawan jenisnya.
Soal kenyamanan, pria dalam penelitian ini mengaku lebih nyaman ketika tidur dengan pasangannya. Sedangkan wanita merasa tidur lebih nyenyak ketika sendirian.
Setelah tidur sendirian, wanita juga lebih mudah mengingat mimpinya. Berbeda dengan para pria yang ingatannya akan mimpi mencapai tahap paling baik usai bercinta dengan pasangannya.
“Tidak mengherankan jika seseorang terganggu ketika mereka tidur bersama. Tidur adalah kegiatan paling egois yang bisa dilakukan. Tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental,” jelas Dr Neil Stanley, Ilmuwan dari University of Surrey.
Percaya atau tidak? Anda mampu membuktikannya sendiri. (bj0)
