Ngawi (beritajatim.com) – Proses Pemilu Kada Kab Ngawi di sinyalir rawan terjadi konflik antar pendukung, hal ini dipicu oleh adanya masa fanatik dari kelima kubu pasangan Cabub dan cawabub yang berlaga dalam perebutan kursi AE 1 Ngawi. Kondisi yang demikian ini membuat Jajaran Polres Ngawi mengelar simulasi penangan kericuhan Pemilu Kada.
Kapolres Ngawi AKBP Budi Sajidin saat ditemui disela sela pelaksanaan Simulasi penangan kericughan yang dilaksanakan di alun alun Ngawi mengatakan, untuk menangani kericuhan saat pemilu diperlukan latihan lapangan meski teori juga penting. Diharapkan dengan adanya latihan lapangan seperti ini pihak kepolisian nantinya tahu tindakan apa yang harus dikerjakan jika ada kericuhan.
“ Kita sudah melakukan latihan selama tiga hari ini bersama dengan anggota Kodim 0805 Ngawi. Latihan ini diperlukan untuk Kontijensi hal hal yang tidak diinginkan yang sifatnya besar,” terang AKBP Bidi Sajidin Rabu (07/04/2010) .
Selama pelaksanaan simulasi sendiri sempat terjadi aksi saring dorong dan saling tarik antara anggota kepolisian yang mengunakan seragam dan anggota berpakaian preman yang diibaratkan sebagai biang kerusuhan. Bahkan salahsatu unit komputer yang disedian untuk simulasi hancur berkeping keping akibat ulah “masa” yang cenderung brutal.
Pelaksana pilkada ini sendiri diikuti oleh 5 pasangan calon yakni Tri Suyono-Suramto (NOTO) yang diusung Partai Hanura, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Mohammad Rosidi-Siti Amsiyah (ROSA) dari calon perseorangan.
Budi Sulistyono alias Kanang-Ony Anwar Harsono (OK) yang diusung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Golkar, Partai Amanat nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Maryudhi Wahyono-Suratno (MARS) yang diusung Partai Demokrat dan aliansi 12 parpol non parlemen, serta Ratih Sanggarwati-Khoirul Anam yang diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
