Gresik (beritajatim.com) – Produsen semen regional PT Semen Indonesia (persero) Tbk pada tahun 2015 hanya menjaga market share di angka 44 persen. Hal ini dilakukan karena produsen semen dengan kode emiten SMGR itu tidak memiliki tambahan kapasitas.
Menurut Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Agung Wiharto dalam laporan kinerja 2014 di Gedung Pusat Penelitian Semen (PPS) di Gresik menyatakan untuk menjaga market share 44 persen, perusahaannya telah menyiapkan beberapa strategi salah satunya adalah mengoptimalkan pabrik semen Thang Long Cement Company (TLCC) di Vietnam yang memiliki kapasitas 3 juta ton per tahun. Langkah lainnya adalah mempercepat progres proyek pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah.
“Produksi Thang Long Cement Company Vietnam 40 persennya diekspor dalam bentuk clinker, dan ini kami optimalkan jika demand semen domestik mengalami peningkatan drastis. Selain itu, kami juga berharap pabrik semen di Rembang, Jateng yang memiliki kapasitas 3 juta ton bisa selesai tepat waktu dan beroperasi,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (31/12/2014).
Saat ini lanjut Agung Wiharto, grup perusahaannya Semen Indonesia memiliki kapasitas terpasang 31,1 juta ton selama 2014. Dari total jumlah itu, masih dianggap kurang optimal. Pasalnya, pada tahun 2015 demand semen bakal meningkat seiring dengan pemerintah terus memacu pembangunan infrastruktur. Sehingga, mendorong peningkatan kapasitas produksi dan penyerapan semen dalam negeri.
“Versi Asosiasi Semen Indonesia atau ASI tahun depan bakal ada tambahan semen lebih dari 10 juta ton per tahun. Sedangkan kapasitas produksi terpasang yang ada sekarang 68 juta ton. Jumlah itu, kuenya dibagi dengan kompetitor kami,” paparnya.
Saat disinggung melambatnya pertumbuhan volume penjualan Semen Indonesia Grup selama 2014. Dijelaskan Agung Wiharto, hal itu banyak dipengaruhi beberapa faktor diantaranya masalah politik (pileg dan pilpres) serta pengaruh ekonomi global.
“Tahun 2014 bisa jadi banyak mempengaruhi kinerja kami selain masalah politik dan ekonomi global. Naiknya tarif dasar listrik atau TDL di sektor industri juga berpengaruh,” paparnya.
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), volume penjualan Semen Indonesia Grup di pasar domestik selama Januari-November 2014 mencapai 23.865.709 ton. Angka itu, tumbuh tipis 3,3 persen dibanding periode sebelumnya dengan tahun yang sama dengan capaian 23.095.160 ton. [dny/but]
