Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Ragam»Sejarah Berdirinya Kabupaten Madiun, Jejak Panjang Peradaban Jawa Timur
Tangkapan layar peta Kabupaten Madiun di Google Map
Tangkapan layar peta Kabupaten Madiun di Google Map

Sejarah Berdirinya Kabupaten Madiun, Jejak Panjang Peradaban Jawa Timur

Ragam 4 Oktober 2025

Madiun (beritajatim.id) — Kabupaten Madiun memiliki sejarah panjang yang berakar kuat dalam perjalanan peradaban dan politik tanah Jawa. Berdiri secara yuridis formal pada tanggal 18 Juli 1568 Masehi atau bertepatan dengan 15 Suro 1487 Be – Jawa Islam, Madiun sebelumnya dikenal dengan nama Purbaya, yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak.

Awal Mula: Purbaya dan Pengaruh Kesultanan Demak

Sejarah Kabupaten Madiun dimulai pada masa kejayaan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Perkembangan wilayah ini ditandai dengan pernikahan politik antara Pangeran Surya Patiunus, putra mahkota Demak, dengan Raden Ayu Retno Lembah, putri dari Pangeran Adipati Gugur, penguasa di wilayah Ngurawan, Dolopo.

Setelah pernikahan tersebut, pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke Desa Sogaten, yang kemudian dikenal dengan nama Purabaya. Inilah cikal bakal berdirinya Kabupaten Madiun dalam struktur administratif yang lebih formal.

Pangeran Surya Patiunus memimpin wilayah ini hingga tahun 1521, dan pemerintahan diteruskan oleh tokoh spiritual dan lokal yang dikenal sebagai Kyai Rekso Gati. Nama “Sogaten” sendiri diyakini berasal dari tempat tinggal Kyai Rekso Gati, yang juga menjadi pusat pengawasan pemerintahan mewakili Demak hingga tahun 1568.

Lahirnya Kabupaten Purabaya (Madiun)

Pada 18 Juli 1568, Pangeran Timoer secara resmi diangkat sebagai Bupati pertama Purabaya, menandai transisi dari pemerintahan berbasis pengawasan menjadi pemerintahan berbentuk kabupaten di bawah seorang bupati. Dengan pelantikan ini, Kabupaten Purabaya secara hukum menjadi wilayah otonom yang berada di bawah naungan Kesultanan Demak.

Pusat pemerintahan awalnya tetap berada di Desa Sogaten, namun pada tahun 1575, dipindahkan ke Desa Wonorejo (kini dikenal sebagai Kuncen, Kota Madiun). Wilayah ini menjadi pusat kekuasaan hingga menjelang akhir abad ke-16.

Perlawanan Terhadap Mataram: Kiprah Raden Ayu Retno Dumilah

Salah satu tokoh penting dalam sejarah Madiun adalah Raden Ayu Retno Dumilah, putri dari Bupati Pangeran Timoer. Pada tahun 1586 hingga 1587, Kesultanan Mataram, di bawah pimpinan Sutawidjaja (Panembahan Senopati), melancarkan serangan ke wilayah Purabaya. Namun, pasukan Mataram mengalami kekalahan telak dalam dua pertempuran besar tersebut.

Retno Dumilah tampil sebagai pemimpin militer yang tangguh, bahkan dijuluki sebagai “Senopati Manggalaning Perang” oleh rakyatnya. Ia memimpin sendiri pasukan Mancanegara Timur yang bertahan melawan gempuran Mataram.

1590: Titik Balik Sejarah dan Lahirnya Nama “Madiun”

Pada tahun 1590, Mataram melakukan siasat dengan berpura-pura mengakui kekuasaan Purabaya. Namun secara tiba-tiba, mereka melancarkan serangan mendadak ke pusat pemerintahan di Wonorejo. Saat itu, hanya Retno Dumilah dan sejumlah kecil prajurit yang bertahan di istana.

Terjadilah perang tanding legendaris antara Sutawidjaja dan Raden Ayu Retno Dumilah di dekat sebuah sendang (mata air) di wilayah istana. Dalam peristiwa itu, Pusaka Tundung Madiun berhasil direbut oleh Sutawidjaja. Ia kemudian membujuk Retno Dumilah untuk menyerah dan menikahinya.

Sebagai bentuk penaklukan dan penyatuan wilayah, Retno Dumilah diboyong ke Istana Mataram di Plered, Yogyakarta, dan pada Jumat Legi, 16 November 1590, nama Purabaya resmi diubah menjadi “Madiun”.

Makna Strategis dan Budaya

Peristiwa perubahan nama dari Purbaya ke Madiun bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga menandai masuknya wilayah ini ke dalam pengaruh Mataram. Nama “Madiun” sendiri memiliki interpretasi filosofis sebagai “tempat kedamaian” atau “penyatuan dua kekuatan”, yakni antara utara (Demak) dan selatan (Mataram).

Hingga kini, jejak-jejak sejarah tersebut masih terawat dalam narasi budaya masyarakat Madiun, termasuk dalam cerita rakyat, nama desa, peninggalan pusaka, serta peringatan hari jadi yang jatuh pada 18 Juli setiap tahun.

Kabupaten Madiun bukan sekadar wilayah administratif di Jawa Timur, melainkan bagian dari sejarah panjang politik, budaya, dan militer di tanah Jawa. Dari pernikahan dinasti Kesultanan Demak, perjuangan Raden Ayu Retno Dumilah, hingga perubahan identitas menjadi Madiun oleh Kesultanan Mataram, semuanya menjadi warisan yang memperkaya identitas lokal dan nasional.

Sejarah ini menjadi pengingat bahwa Madiun pernah menjadi medan penting dalam percaturan kekuasaan Jawa, dan kini menjadi daerah yang tumbuh sebagai pusat ekonomi, budaya, dan sejarah di Jawa Timur. (aga)

asal-usul Madiun Kabupaten Madiun Kesultanan Demak Purbaya Raden Ayu Retno Dumilah sejarah Jawa Timur Sejarah Madiun Sutawidjaja
Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp

Related Posts

Suku Osing Banyuwangi: Penjaga Warisan Budaya Blambangan

17 Agustus 2025

Jawa Timur: Provinsi Strategis dengan Keberagaman Budaya dan Potensi Ekonomi yang Besar

28 Mei 2025

Mengenal Kabupaten Lumajang, Wilayah Strategis di Kawasan Tapal Kuda Jawa Timur

10 Juni 2024
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.