Surabaya (beritajatim.com) – Untuk kesekian kalinya, Fandi Utomo terus mengaingatkan kepada para Pegawai Negri Sipil (PNS) agar tidak terlibat politik praktis, bahkan terlibat dalam even pilwali tidak berjangka panjang. menurut Fandi, hal tersebut akan merugikan baik, negara maupun PNS yang bersangkutan.
“Tidak ada untungnya, kalau mau jadi politikus, mending langsung saja terjun, dari pada setengah – setengah yang pada akhirnya merugikan diri sendiri,” ujar fandi saat dikonfirmasi, Jumat (09/04/2010).
Fandi menegaskan, bahwa himbauanya ini tidak bermaksud untuk mematahkan atau melemahkan PNS yang sedang terlibat aksi saling dukung kandidat cawali, namun sebagai upaya untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Fandi mencontohkan, bahwa apa yang dihimbaukan kepada PNS tersebut sudah pernah dilaluinya. Fandi Utomo sendiri, pernah menjadi PNS saat berstatus dosen di ITS Surabaya, dengan masa pengabdian yang cukup lumayan, yakni 11 tahun 8 bulan. namun ketika dirinya memutuskan untuk terjun dalam dunia perpolitikan, Fandi tak segan melepas status PNS yang sudah disandangnya selama 11 tahun.
“saya dulu pernah menjadi PNS saat jadi dosen ITS, tapi saya mengundurkan diri ketika masuk dalam dunia politik,” imbuh fandi menerawang.
Meski melepas status PNS nya, namun tidak ada rasa penyesalan di dalam diri Fandi, karena menurutnya melepas status PNS adalah suatu keharusn, jika sudah berniat untuk pindah jalur (politik).
“Bagi saya, status PNS adalah sebagai pengabdi kepada negara, dan tidak boleh terkontaminasi dengan kepentingan,” imbuhnya.
Dalam hal ini, Fandi mengajak, agar sluruh PNS, khususnya yang berada di lingkungan Pemkot Surabaya untuk tetap bersikap netral dalam menghadapi pilwali Surabaya dan menjalankan pekerjaanya untuk mengabdi kepada negara.
