Surabaya (beritajatim.com) – Tongkat estafet kepemimpinan Pakde Karwo sebagai gubernur di Jatim akan berpindah tangan tiga tahun ke depan melalui pilgub Jatim 2018. Pakde Karwo jelas tidak bisa mencalonkan kembali karena sudah memimpin dua periode sejak 2009-2014 dan 2014-2019.
Yang berpeluang maju mencalonkan diri sebagai calon gubernur adalah Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang dua periode mendampingi Pakde Karwo. Gus Ipul sendiri saat ini sudah mulai ‘tebar pesona’ menjelang pilgub 2018 dengan sering turun ke tingkat grassroot. Apakah Gus Ipul memiliki kendaraan parpol untuk maju pilgub?
Gus Ipul memang pernah berkecimpung di dunia perpolitikan jauh sebelum menjadi Wagub Jatim. Yakni, pernah menjadi kader PDIP, PPP dan PKB. Gus Ipul juga pernah dipercaya Presiden SBY sebagai Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid I. Tapi saat ini Gus Ipul hanya menjadi salah seorang Ketua PBNU hasil Muktamar NU di Jombang beberapa bulan lalu.
Info yang diperoleh beritajatim.com, ada beberapa nama birokrat setingkat kepala SKPD di lingkungan pemprov Jatim yang digadang-gadang bakal mendampingi Gus Ipul. Mereka adalah Kadishub LLAJ Jatim Wahid Wahyudi (saat ini Pj Bupati Lamongan), Kadis Pendidikan Jatim Saiful Rachman dan Kadis Perikanan Jatim Heru Tjahjono (mantan Bupati Tulungagung dua periode).
“Tapi dari ketiga nama itu, paling berpeluang kuat adalah Wahid Wahyudi. Ini terbukti setelah Wahid Wahyudi pernah menolak tawaran jabatan eselon I di Kemenhub dari Menhub Ignatius Jonan,” tutur sumber itu.
Selain kalangan birokrat, juga sempat muncul nama Bupati Banyuwangi terpilih kali kedua Azwar Anas (kader NU) yang disebut mendampingi Gus Ipul. Selain Anas, ada juga nama Ketua DPW PKB Jatim Abdul Halim Iskandar (Gus Halim) yang sudah ‘kampanye’ dini memasang fotonya bersama Gus Ipul saat ajang Muktamar NU di Jombang pada Agustus lalu. Posisi Gus Halim dalam foto-foto yang dipasang adalah sebagai Ketua DPRD Jatim.
Gus Ipul ketika maju pilgub Jatim harus memiliki kendaraan politik. Jika menilik ke belakang, Gus Ipul saat maju mendampingi Pakde Karwo pada pilgub 2008 dan pilgub 2013 diusung Partai Demokrat (PD) dan PAN serta didukung aliansi parpol non parlemen (APNP). Pasangan KarSa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) berhasil mengandaskan rival terberatnya Khofifah Indar Parawansa saat bertarung di dua pilgub Jatim terakhir.
Paling tidak Gus Ipul harus melihat peta politik pascapilkada serentak. Di mana PDIP dan Partai Gerindra paling banyak memenangkan pilkada di 19 pilkada serentak di Jatim pada 9 Desember 2015. PDIP berhasil memenangkan 13 pilkada, sedangkan Gerindra 11 pilkada.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun beritajatim.com: Kemenangan pilkada serentak berdasarkan parpol pengusung adalah:
1. PDIP: 13
2. Gerindra: 11
3. PAN: 10
4. NasDem: 9
5. Demokrat: 8
6. PKB: 8
7. PKS : 6
8. Golkar: 6
9. Hanura: 5
10. PPP: 1
Pilgub Jatim 2018 akan menjadi menarik jika Khofifah yang saat ini menjabat Menteri Sosial (Mensos) RI dan Ketua Umum PP Muslimat NU kembali turun gelanggang kali ketiga untuk bertarung menghadapi Gus Ipul.
Jika mencermati hasil pilgub Jatim 2008 dan 2013 terlihat fakta sangat menarik. Ini karena Pakde Karwo berhasil memenangkan pertarungan melawan rival terkuatnya Khofifah Indar Parawansa sebanyak dua kali pilgub. Dan dua-duanya juga harus melewati mekanisme gugatan perselisihan hasil suara di Mahkamah Konstitusi (MK).
Pilgub terakhir yakni pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk periode 2014-2019 digelar pada 29 Agustus 2013.
Istilah ‘El Clasico’ menjadi sebutan banyak pengamat yang memprediksi bahwa pertarungan politik di pilgub Jatim 2013 merupakan tanding ulang pilgub 2008 sebelumnya. Rupanya ramalan ini menjadi sebuah kenyataan yang tak terelakkan.
Fakta ini sekaligus menunjukkan kepada publik bahwa ranah politik dan sosial Jatim masih milik mayoritas warga Islam Tradisional (NU). Tampilnya Saifullah Yusuf (Gus Ipul-Ketua PBNU) sebagai cawagubnya Pakde Karwo (Ketua DPD Partai Demokrat Jatim) selama dua kali pemilihan dan Khofifah Indar Parawansa sebagai Cagub (2008 dan 2013), terbukti mampu menenggelamkan kekuatan pasangan ‘merah’ atau PDIP selama dua periode pemilihan dilangsungkan.
Seperti halnya pilgub 2008 yang harus berakhir di MK, pilgub 2013 juga harus berakhir di tangan MK. Mahkamah Konstitusi (MK) mulai membuka acara pembacaan putusan untuk sengketa pilgub Jatim pada Senin, 7 Oktober 2013 pukul 16.00 WIB.
Sebagai pemohon adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja (Berkah) dengan kuasa pemohon Otto Hasibuan. Dengan acara sidang pengucapan putusan. Nomor perkaranya adalah nomor 117/PHPU.D-XI/2013. Sebagai termohon adalah KPU Jatim dan termohon terkait pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa).
Hasilnya, MK menolak seluruhnya permohonan penggugat Berkah. Dan, artinya menguatkan kemenangan KarSa yang telah ditetapkan melalui rekapitulasi KPU Jatim. Ini adalah kemenangan KarSa untuk kali kedua melawan Khofifah sejak pilgub 2008.
Sebelum digugat ke MK, hasil akhir rekapitulasi KPU Jatim yang diperoleh memang tidak jauh berbeda dengan hasil quick count beberapa lembaga survey. Pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul (KarSa) dan Pasangan Khofifah-Herman (Berkah) adalah dua pasangan teratas yang mendapat mayoritas suara rakyat Jatim.
Hasil Pilgub 2013
KPU Jatim, melaui Surat Keputusan bernomor 24/KPTS/KPU-Prov-014/2013, memastikan pasangan petahana Soekarwo-Saifullah Yusuf, sebagai pemenang pemilukada Jatim, periode 2014-2019.
Pasangan KarSa yang diusung Partai Demokrat dan didukung 31 partai politik (parpol) parlemen dan nonparlemen, berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Jatim, memperoleh 8.195.816 suara atau 47,25 persen.
Peringkat kedua diraih Berkah diusung PKB dan didukung beberapa parpol non parlemen meraih suara 6.525.015 suara atau 37,62 persen. Pasangan ‘merah’ Bambang DH-Said Abdullah diusung PDIP, berada di urutan ketiga hanya mengumpulkan 2.200.069 suara atau 12,69 persen. Sedangkan pasangan Eggi Sudjana-M Sihat (Beres) dari jalur perseorangan mendapat 422.932 suara atau 2,44 persen.
Dalam coblosan yang dilaksanakan, Kamis (29/8/2013), KarSa berhasil unggul di 26 dari 38 kabupaten/kota di Jatim. Ke-26 daerah tersebut, masing-masing Bojonegoro, Kota Mojokerto, Bangkalan, Sampang, Nganjuk, Jombang, Ngawi, Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Magetan, Kota Probolinggo, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kota Blitar, Batu, Bondowoso, Situbondo, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Tulungagung, Kota Malang dan Lumajang.
Sedangkan Berkah unggul di 12 daerah, masing-masing Gresik, Pamekasan, Tuban, Lamongan, Kabupaten Mojokerto, Sumenep, Sidoarjo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, Jember dan Banyuwangi.
NU Kalahkan PDIP
Jika melihat ke belakang di tahun 2008, kekuatan merah yang direpresentasikan oleh pasangan Sujtipto-Ridwan Hisjam (SR) terbukti tidak mampu berbicara banyak. Begitu pula, di tahun 2013 ini pasangan Bambang-Said harus dipaksa mengakui kekalahannya jauh di bawah perolehan suara kedua pasangan KarSa dan Berkah.
Walaupun di pilgub 2013 ini, PDIP selaku simbol kekuatan merah sudah berupaya dengan pelbagai strategi namun belum mampu mendongkrak suara, termasuk mendatangkan Ketua Umum PDIP Megawati dan Gubernur DKI Jakarta terpilih Jokowi. ‘Jokowi Effect’ yang diharapkan mendulang sukses seperti di di pilgub DKI Jakarta dan Jateng namun di Jatim terbukti langkah tersebut kurang efektif.
Analisis para pengamat menyebutkan salah satu faktor gagalnya ‘Jokowi effect’ di Jawa Timur adalah masih kuatnya basis Nahdliyin yang kecenderungannya memilih sesama kader Nahdliyin. Hasilnya, mayoritas warga Jatim yang merupakan warga Nahdliyin banyak memilih Gus Ipul dan Ibu Khofifah yang dianggap lebih merepresentatifkan kader terbaik yang dimiliki oleh NU.
Dalam konteks Jatim, fakta ini setidaknya makin mengukuhkan pendapat KH Abdul Wahab Chasbullah yakni bahwa kekuatan NU tetaplah meriam, bukan gelugu kelapa. Dua tokoh NU, Gus Ipul maupun Khofifah, mampu mendulang suara signifikan untuk pasangannya masing-masing, kendati hasil akhir yang diperoleh Gus Ipul dan Pakde Karwo lebih banyak dibanding yang direbut Khofifah bersama Irjen Pol Purn Herman S (mantan Kapolda Jatim).
Namun di balik itu semua, ada sebuah fenomena lainnya yang mesti segera disikapi. Polarisasi dan faksionalisasi yang terjadi di tubuh kaum sarungan ini selama proses pilgub berlangsung menjadi realitas yang tak terbantahkan pula. Dalam pilgub Jatim 2013, barisan politik kaum sarungan dalam kondisi tak utuh dan tak berdiri rapat dalam satu komando. Ada Khofifah yang disokong PKB dan sejumlah kiai NU, seperti mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan mantan cawapres KH Solahuddin Wahid (Pimpinan Pondok Tebuireng Jombang). Mereka berhimpun dalam satu kekuatan yang bisa disebut sebagai Poros Tebuireng. Kiai Hasyim dan Gus Solah menjadi tokoh penting dan yang memberikan dukungan politik penuh kepada Berkah, selain nama lain seperti ekonom Rizal Ramli, Adhie Massardi dan Ketua Umum PKPI Sutiyoso.
Tak jauh dari Jombang, lokasi Pondok Tebuireng yang didirikan KH Hasyim Asy’ari, ada KH Idris Marzuki (Pondok Lirboyo Kediri), KH Zainuddin Djazuli (Pondok Ploso Kediri), KH Anwar Iskandar (Gus War), dan banyak kiai lain yang mendukung langkah Gus Ipul bergandengan Pakde Karwo (Karsa) sebagai cawagub. Kutub politik yang menghimpun sejumlah kiai NU ini bisa disebut sebagai Poros Ploso. Para kiai di Poros Ploso sempat mengeluarkan taushiyah (rekomendasi) yang menegaskan bahwa mereka mendukung KarSa kembali memimpin Jatim dalam lima tahun ke depan.
Pada pilgub Jatim ke depan, Pakde Karwo tentu tidak bisa maju kembali karena sudah dua periode. Gus Ipul sebagai wakilnya yang akan meneruskan tongkat estafet untuk maju sebagai calon gubernur ke depan. Akankah Khofifah yang saat ini menjadi Menteri Sosial (Mensos) di kabinet Jokowi-JK akan maju kembali bertarung untuk kali ketiga di pilgub Jatim ke depan? Akankah PDIP sebagai pemenang pilkada serentak terbanyak di Jatim mendulang sukses pada pilgub mendatang? (tok/kun)
