Surabaya (beritajatim.com) – Dengan melihat potensi Usaha Kecil Menengah yang ada di kota Surabaya, calon walikota Fandi Utomo berjanji akan memajukan industri UKM. hal ini setelah melihat hasil kreatif pengolahan mangrove yang selama ini belum tergarap secara maksimal oleh Pemkot Surabaya.
Bahkan mantan dosen ITS ini menjanjikan akan memberikan 8 sampai 10 persen dana dari APBD untuk memajukan UKM di Surabaya.Hal ini disampaikan cawali yang juga pengusaha ini ketika mendengar keluhan para perajin di sentra kerajinan mangrove dikawasan Kedung Asem Surabaya, Rabu (07/04/2010).
Dalam acara yang dikemas dengan acara ngobrol santai tersebut, para perajin yang diwakili Ketua kelompok perajin hasil olahan mangrove Lulut mengatakan selama ini kelompoknya secara swadaya memproduksi hasil olahan mangrove untuk dijadikan sebagai kain batik dan makanan yang lain seperti tempe dan makanan ringan yang lain.
“Kami melihat hasil olahan mangrove juga bisa digunakan sebagai bahan industri kreatif,” ujar Lulut.
Wanita yang sudah memberikan pelatihan pengolahan hasil mangrove selama puluhan tahun ini menambahkan, bahkan untuk memasarkan hasil kerajinannya sekalipun para pengrajin harus melakukan dengan cara swadaya.
“Perhatian Pemkot kurang ada, padahal jika ini dikelola dengan baik bisa jadi hal ini menjadi identitas Kota Surabaya,” imbuh Lulut.
Menanggapi hal ini calon walikota Fandi Utomo mengatakan sebagai orang yang berlatarbelakang pengusaha, dirinya sangat memahami apa yang disampaikan oleh para perajin, karena antara usaha kecil menengah dengan pemerintah adalah sesuatu hal yang sulit untuk dipisahkan.
“Paling tidak Pemkot Surabaya harus bisa menjadi regulator yang baik sehingga bisa mendorong UKM untuk terus maju,” ujarnya.
Disamping memberikan modal, jelas Fandi, Pemkot Surabaya juga harus menjadi jembatan UKM untuk memasarkan hasil industrinya keluar Negri layaknya negara-negara yang lain, yang bertujuan untuk meminimalisir angka pengangguran.(rif)
