Jombang (beritajatim.com) – Hadirnya dua anak kandung almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Alissa Qatrunnada Wahid dan Inayah Wulandari Wahid, dalam diskusi peringatan 100 hari meninggalnya tokoh pluralis di kantor PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) Jombang berjalan cukup menarik.
Dalam diskusi tersebut, Alissa Wahid, meminta para Gusdurrians (penganut Gus Dur) untuk mewaspadai bangkitnya gerakan arus balik. Gerakan tersebut menurut Alissa akan menghancurkan paham yang selama ini diperjuangkan oleh mantan presiden ke empat tersebut.
Alissa mensinyalir, saat ini gerakan penghancuran terhadap paham pluralisme dan multikulturalisme sudah mulai mengemuka. Hal itu, menurut Alissa, bisa dilihat dari maraknya aksi gerakan yang dilakukan oleh kelompok tertentu.
“Semisal gerakan penyerangan terhadap konggres gay yang akan digelar di Surabaya beberapa waktu lalu. Atau pelarangan memakai jilbab di beberapa daerah. Semua itu adalah upaya untuk mengganjal ideology yang diusung Gus Dur,” kata Alissa saat mengahadiri diskusi dengan tema ‘Membangun Sinergitas Melanjutkan Arah Gerakan Gus Dur’, Kamis (8/4/2010).
Untuk menghadang laju gerakan arus balik itu, perempuan bermata sipit ini meminta kepada para Gusdurians untuk memperkuat jaringan. Dalam arti, gerakan untuk perlawanan arus balik itu tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Ia mengibaratkan sapu lidi. Jika lidi itu terpisah, kata Alissa, maka sangat mudah dipatahkan. Namun jika lidi itu terkumpul maka akan menghasilkan kekuatan yang dahsyat.
Selain dua anak Gus Dur, diskusi yang digelar oleh JIAD (Jaringan Islam Anti Diskriminasi), ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama), Kampoeng Nahdliyin, serta PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Jombang itu juga dihadiri puluhan aktivis tingkat Jawa Timur.
