Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Peristiwa»Tanah Gerak, 21 KK Tinggal Dirumah Miring
Default image

Tanah Gerak, 21 KK Tinggal Dirumah Miring

Peristiwa 9 April 2010

Malang (beritajatim.com) – Sedikitnya 21 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Balerejo RT09/RW03, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, tinggal dirumah miring. Kemiringan rumah tersebut diakibatkan oleh kontur tanah yang bergerak. Dengan tingkat kemiringan sampai 60 centi meter dari posisi tanah, membuat ratusan rumah warga ditempat itu retak-retak dan rawan roboh.

Dari pantauan beritajatim.com dilapangan, beberapa rumah dikawasan itu sudah banyak yang rata dengan tanah. Hanya saja, karena warga sangat membutuhkan tempat tinggal, mereka pun terpaksa membangun kembali rumah-rumah hunian dengan bangunan ala kadarnya. Padahal, akibat kontur tanah yang bergerak itu, dipastikan rumah-rumah yang sudah mereka bangun, kembali mengalami kemiringan dan rawan menimbulkan bencana jika tidak segera dilakukan tindakan.

“Beberapa rumah warga memang sudah ada yang rata dengan tanah. Hal itu disebabkan karena kontur tanah sangat berbahaya dan bisa merobohkan apa saja yang ada diatasnya,” ungkap Sekretaris Desa Dusun Srimulyo, Kecamatan Dampit, Adi Surasa, Jumat (09/04/10) saat ditemui dilokasi.

Dijelaskan Adi, tanah gerak diwilayahnya memang sudah lama dilaporkan baik pada tingkat Muspika dan Muspida Kabupaten Malang. Namun, entah kenapa, sampai sejauh ini belum ada tanggapan serius. Bahkan, soal dana anggaran yang akan dibantukan pada warga penghuni ditanah gerak tersebut, belum juga ada kejelasan. Padahal, warga juga berharap jika mereka direlokasi, ada kejelasan dan bantuan dari Pemkab Malang.

“Tiap hujan turun, warga terpaksa harus keluar rumah. Mereka tidak berani berdiam diri didalam karena hal itu sangat membahayakan. Itu sebabnya, mereka tetap waspada dan hidup diliputi rasa kecemasan. Karena selama ini memang tidak ada bantuan serius dari Pemkab, membuat warga terpaksa menghuni rumah miring tersebut,” papar Adi.

Sementara itu, Kepala Desa Srimulyo Dumadi menegaskan, selama ini, pihak desa sudah memberikan penyuluhan dan meminta warga untuk direlokasi. Namun, karena anggaran dari pemerintah setempat memang terbatas, hal itu tidak bisa menjadikan warga segera pindah. Lebih dari itu, antisipasi dari desa adalah tetap meminta agar warga yang mendiami sekitar tanah gerak, harus waspada jika hujan turun.

“Kami sudah memberikan laporan pada Muspida. Sampai sejauh ini, kami juga berharap agar warga dapat direlokasi ditempat yang nyaman. Namun, karena memang tidak ada bantuan membuat warga enggan untuk pindah,” ucap Dumadi.

Kontur tanah disekitar wilayah tersebut sangat labil. Bahkan, beberapa rumah warga sudah ambles. Tak sedikit diantaranya rata dengan tanah dan terangkat dari atas tanah. Akibatnya, bagian dalam rumah 21 KK ditempat itu retak-retak dan memprihatinkan.

Menurut Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Malang, Abdul Rahman saat meninjau lokasi rumah miring milik warga setempat, selama ini, dewan sudah mengagendakan dan member masukan pada pemkab malang agar ada perhatian serius. Mengingat, diwilayah itu memang dihuni ribuan jiwa. “Sejauh ini, kami sudah melakukan komunikasi secara berkala dengan pihak executive untuk merelokasikan warga ke tempat yang lebih aman. Namun, kendalanya selalu pada dana dana anggaran,” papar Politisi asal PKB itu.

Ia juga menegaskan, masalah rumah miring sebenarnya jadi tanggung jawab pemkab malang. Kalau memang serius dan dilakukan penanganan yang bagus, masalah anggaran sebetulnya bisa diatasi. Mengingat, pos bantuan untuk memberikan bantuan dan dana untuk warga yang mendiami kontur tanah gerak, bisa diambilkan dari pos anggaran lainnya.

“Harus ada pendekatan dan komunikasi yang bagus dengan warga setempat. Kalau memang mereka tidak mau direlokasi, bisa jadi karena mereka menganggap pemerintah tidak sanggup mendengar aspirasi warganya,” kata Abdurrahman.

Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp

Related Posts

Demi Keselamatan Pasien di Kapal, Gus Ipul Batalkan Dua Agenda

28 Oktober 2017

Polisi Tidur Gagalkan Pencurian Motor di Kedung Cowek

20 Januari 2016

Ratusan Kapal Rakyat di Sampang Berlayar Tanpa Izin

2 Januari 2016
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.