Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Peristiwa»Survei BPS 2007: Biaya Hidup di Surabaya Makin Mahal
Default image

Survei BPS 2007: Biaya Hidup di Surabaya Makin Mahal

Peristiwa 18 Desember 2007

Surabaya (beritajatim.id) – Biaya hidup di Kota Surabaya terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan Survei Biaya Hidup (SBH) 2007 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), biaya hidup rata-rata per orang di Surabaya naik dari Rp 2,1 juta per tahun pada 2002 menjadi Rp 3,06 juta per tahun pada 2007.

“Ini hasil survei biaya hidup 2007 putaran pertama (Januari-Juni 2007),” kata Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Dr. Ali Rosidi, dalam seminar bertajuk “Dampak Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat Jatim Terhadap Angka Inflasi” yang digelar di Surabaya, Selasa (18/12/2007).

Menurut data SBH 2002, Surabaya sebelumnya menempati peringkat ketiga kota termahal di Indonesia setelah Jakarta dan Batam. Saat itu, posisi keempat dan kelima ditempati oleh Jayapura dan Denpasar.

Namun, dalam SBH 2007, Surabaya turun ke peringkat kelima setelah Jakarta, Aceh, Jayapura, dan Batam.

“Penurunan peringkat ini bukan berarti biaya hidup di Surabaya menurun, melainkan kota-kota lain mengalami kenaikan biaya hidup lebih tinggi,” ujar Ali Rosidi.

Sebagai perbandingan, biaya hidup di Jakarta meningkat dari Rp 2,7 juta per orang per tahun pada 2002 menjadi Rp 4,02 juta pada 2007.

Selain itu, jumlah kota yang disurvei juga bertambah. Jika pada 2002 hanya ada 45 kota yang disurvei (4 di antaranya dari Jawa Timur), pada 2007 jumlahnya meningkat menjadi 66 kota (7 di antaranya dari Jawa Timur).

Dalam seminar yang sama, pakar statistik ITS Surabaya, Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc, menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir terjadi perubahan pola konsumsi di Jawa Timur.

“Dulu konsumsi utama masyarakat lebih banyak untuk pangan (makanan) dan sandang (pakaian). Sekarang bergeser ke papan (perumahan), transportasi, dan jasa pendidikan,” jelasnya.

Namun, perubahan ini bukan pertanda meningkatnya kesejahteraan, melainkan semakin tingginya beban biaya hidup.

“Masyarakat semakin miskin karena pengeluaran mereka tersedot untuk kredit perumahan dan kendaraan,” tambahnya.

Selain itu, biaya pendidikan juga semakin membebani keluarga muda di Surabaya. Biaya masuk playgroup meningkat hingga 190 persen lebih mahal dibanding jenjang pendidikan lainnya.

Kresnayana juga mengkritik metode survei BPS yang dinilai kurang akurat dalam menggambarkan pola konsumsi masyarakat saat ini.

“Survei hanya dilakukan pada orang tua, padahal pengeluaran keluarga saat ini lebih banyak didominasi oleh remaja, sekitar 60 persen. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk rokok, alat komunikasi, transportasi, dan pendidikan,” tegasnya.

Dengan tren kenaikan biaya hidup yang terus terjadi, tantangan ekonomi bagi warga Surabaya semakin besar. Apakah di masa mendatang Surabaya akan kembali naik peringkat sebagai salah satu kota termahal di Indonesia? (ted)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp

Related Posts

Demi Keselamatan Pasien di Kapal, Gus Ipul Batalkan Dua Agenda

28 Oktober 2017

Polisi Tidur Gagalkan Pencurian Motor di Kedung Cowek

20 Januari 2016

Ratusan Kapal Rakyat di Sampang Berlayar Tanpa Izin

2 Januari 2016
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.