Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Sorotan»Puisi Gelap: Filosofi, Teknik, dan Pengembangannya

Puisi Gelap: Filosofi, Teknik, dan Pengembangannya

Sorotan 28 Oktober 2017

BANYAK KALANGAN MENILAI, Jawa Timur (baca: Surabaya) merupakan ladang subur bagi tradisi puisi gelap. Klaim ini biasa tempelkan untuk menyebut kecenderungan puisi-puisi dari penyair komunitas Airlangga, utamanya yang pernah bergiat di Teater Gapus Unair. Dengan para penyair di antaranya Indra Tjahyadi, Muhammad Aris, W Haryanto, Mashuri, Deny Tri Aryanti, Dheny Jatmiko, Ahmad Faishal, dll.

Arief B Prasetyo dalam ‘Forum Sastra Indonesia Hari Ini’ di Salihara, tahun 2010, mencatat bahwa kontribusi puisi Jawa Timur dalam ranah puisi Indonesia adalah mazhab puisi gelap. Berikut tulisan Arief: Betapa pun, sampai hari ini, di Jawa Timur belum muncul gerakan puitik baru yang semilitan dan seserius ‘puisi gelap’ Surabaya. Mazhab ‘puisi gelap’ mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khazanah puisi dari berbagai provinsi lain, sehingga layak dicatat sebagai kontribusi unik Jawa Timur dalam sejarah sastra Indonesia kontemporer.

Pernyataan yang hampir sama diungkapkan Binhad Nurrohmad bulan September 2015 sewaktu diskusi sastra di Taman Budaya. Dia menyebutkan, dari luar, puisi Jawa Timur itu yang dikenal adalah surealisme. Hanya saja, surealisme yang abal-abal. Saya sebut abal-abal karena tidak sama dengan surealisme di Eropa. Puisi surealis di Eropa bahkan tidak serumit di Jawa Timur. Puisi gelap. Uniknya, puisi surealis ini diciptakan oleh anak-anak Unair yang nota bene kuliah di Sastra. Artinya, mereka memang belajar sastra, mengerti teori sastra.

Oleh sebab klaim-klaim tersebut, bahwa Jawa Timur dikenal dengan puisi gelap, maka tidaklah salah bila kita sedikit membahas tentang tradisi puisi gelap. Bukan untuk memaksakan agar menulis puisi gelap, ini sebatas untuk pengetahuan saja. Kalau memang cocok, ya tidak apa-apa.

Puisi gelap dan puisi surealis. Diakui atau tidak, tapi lebih banyak diakui, puisi gelap memang banyak bersandar pada tradisi surealis. Lantas, apakah puisi gelap itu?

Indra Tjahyadi dalam “Manifesto Puisi Gelap’ pernah menuliskan: Tugas penyair adalah menyelamatkan manusia. Menyelamatkan manusia dari kejatuhan mengerikan tersebut. Dan untuk menunaikan tugasnya tersebut, seorang penyair tidak dapat bersandar pada dunia sebab dunia telah mengalami kebanalan. Maka, jalan atau cara yang paling mungkin bagi penyair untuk menunaikan tugasnya menyelamatkan manusia dari kejatuhannya tersebut adalah dengan tidak lagi bersandar pada dunia melainkan kembali pada utopia.

Penciptaan makna baru ini dimungkinkan apabila puisi bekerja dalam tataran pemaknaan yang paling ambigu. Dan jalan satu-satunya agar sampai pada hal tersebut adalah dengan penggelapan.

Puisi harus mampu membuka segala arah bagi rute pemaknaan. Hal ini dapat dicapai apabila puisi melakukan pengacauan arah pada pemaknaannya. Menempatkan petunjuk jalan sebanyak-banyaknya dan menempatkan arah pemaknaan sebanyak-banyaknya.

Lantas, apakah surealisme? Kennedy and Dana Gioia dalam ‘Surealisme dalam Perpuisian Amerika Latin’ menulis bahwa surealisme merupakan salah satu revolusi artistik terbesar di abad dua puluh. Pada mulanya ia muncul pada waktu Perang Dunia I dalam sebuah olok-olok bernama gerakan “Dada”. (Dada merupakan sebutan anak-anak Perancis bagi “kuda lumping”.) Dadaisme merupakan suatu penolakan radikal atas kegilaan yang dilakukan oleh yang-menyebut-dirinya-sendiri dunia “rasional” badai era modern.

Andre Breton dalam Manifesto Surealisme, tahun 1936, mengenalkan surealisme sebagai pola penyajian yang mirip dengan psikoanalisa Sigmund Freud, yaitu pola realitas mimpi. Ada banyak logika dalam satu realitas, ada banyak teks dalam satu teks, ada banyak ruang dalam satu waktu, ada banyak waktu dalam satu waktu. Karya puisi surealis dibentuk oleh jalinan teks-teks kecil yang membangun satu kesatuan.

Lantas, di sini, mengapa puisi itu disebut gelap atau puisi gelap? Pertama, orang-orang menyebut gelap mungkin karena puisi-puisi tersebut susah untuk dimaknai. Sepintas, pemaknaan tidak semudah ketika membaca puisi Sapardi, Rendra, Chairil Anwar, maupun Acep Zamzam Noor. Kedua, para penyairnya sendiri menyebut gelap karena puisi menyajikan dunia yang dipenuhi chaos (kekacauan), tanatos (kematian), tumpah ruah metafor.

Perihal puisi surealis di Eropa, ini saya kutipkan salah satu puisi penyair Prancis, Vicente Aleixandre. Kalau tidak salah, dia peraih nobel sastra juga, entah tahun berapa, saya lupa.

HUJAN TURUN

Malam ini hujan turun, bayanganmu menjelma hujan.
Hari terbuka dalam kenanganku. Kau pun masuk.
Tak kudengar. Kenangan tak memberikan apa pun, hanya bayanganmu.

Hanya ada ciumanmu dan hujan turun.
Suaramu rintik hujan, ciumanmu yang duka rintik hujan,
ciumanmu yang menggores,
ciuman yang kuyup oleh hujan. Bibir basah.
Basah oleh kenangan, ciuman pun menangis
air matanya menitik
dari langit kelabu lembut.
Hujan jatuh dari cintamu melembabkan kenangan-kenanganku
dan terus menitik. Ciuman
jatuh begitu deras. Dan hujan kelabu
terus berjatuhan.

Puisi ini tampaknya sederhana. Bicara tentang cinta, rindu, dan kenangan. Materialnya juga sederhana: mengeksplorasi hujan dan ciuman. Tapi coba ikuti imajinasinya.

Puisi dibuka dengan realitas sehari: Malam ini hujan turun. Tapi tiba-tiba disambung dengan bayanganmu menjelma hujan. Aku lirik (tokoh aku di dalam puisi) terkenang dengan seseorang, mungkin kekasihnya. Terkenang oleh ciuman, dan hujan turun. Apakah hujan dalam baris pertama sama dengan hujan pada baris keempat? Bisa jadi sama, bisa jadi tidak.

Disambung dengan Suaramu rintik hujan, ciumanmu yang duka rintik hujan. Kata hujan pada baris kelima ini justru sudah bukan perwakilan dari realitas lagi. Hujan sudah menjadi kata keterangan. Sebuah pengandaian. Dan bisa jadi, berbeda pula dengan hujan pada baris ketujuh.

Perihal kenangan, apakah kata kenangan dalam baris kedua sama artinya dengan kenangan pada baris kedelapan. Sepertinya juga tidak.

Lalu ada ciuman yang menangis. Ciuman yang menitikkan air mata. Dari langit kelabu lembut. Hujan jatuh dari cintamu melembabkan kenangan-kenanganku. Pada ilustrasi ini, hujan justru jatuh dari cinta kekasihnya. Hujan yang melembabkan kenangan.

Ditambah gambaran, ciuman jatuh begitu deras. Nah, di akhir-akhir ini, hujan bukan lagi menjatuhkan air. Yang jatuh dari hujan justru ciuman.

Begitulah puisi surealis. Menyeruakkan banyak lapis makna. Mendedahkan banyak citraan, banyak gambaran. Banyak realitas yang menumpuk, berseberangan, bertabrakan, dan saling berebut makna. Seperti kita bermimpi. Kadang mimpi dengan setting ketika SD tetapi bertemu dengan kawan-kawan semasa SMA. Tiba-tiba bergeser ke tempat kerja. Kadang akrab dengan orang yang sama sekali belum pernah bertemu. Toh dalam mimpi, segalanya menjadi fakta. Fakta dalam dunia mimpi.

Selanjutnya, ini saya kutipkan puisi-puisi dari Indra Tjahyadi, W Haryanto, Muhammad Aris, Dheny Jatmiko, Nanda A Rahmah. Capek bila harus menelusuri pemaknaannya. Silakan dibaca sendiri. Bahwa, model puisi tersebut susah untuk dimaknai tetapi mudah untuk dijiplak. Dan jika sudah dijiplak, akan tahu sendiri pemaknaannya. Akan tahu sendiri pola tekniknya. Sekaligus, akan tahu sendiri arah pengembangannya.

Jika ingin mencipta puisi gelap, yang terpenting, beranilah bermain metafor, penghancuran atas realitas, jangan takut menubruk logika, sebab salah satu motto penyair gelap adalah ‘meledaklah keindahan atau tidak sama sekali’.

Puisi Indra Tjahyadi
RIWAYAT RERUNTUHAN DAUN-DAUN
: Luska Vitri A

Ketika bulan, suatu hari, kau akan tahu bagaimana kelam mengubah
burung jadi batu, meski seluruh keperihan telah membawa kita
sampai pada suatu tempat di mana dosa, dosa masa silam, menjelma
hantu, menguburku di jejurang gerhana, seolah bebangkai ciuman kita
yang rabun: kekal membusuk di dasar kabut.

Bahkan ketika kupagut lehermu, sementara teror mengambang,
menghina rupa pengetahuanku. Ketika bumi berhenti berputar, dan
cahaya terperangkap di ruang hampa tahun, seolah jiwa kita yang terbang,
yang menyangkal segenap riwayat reruntuhan daun-daun.

2004.

Puisi Muhammad Aris:
LULUR PEJUH

“layarkan kapal! layarkan sangkal!
pikiran-pikiran banal goyang
mengganyang
geliat kilat!”

kami muncul-menyembul dari benih-benih birahi
perang para ksatria dengan pedang-kuda telanjang
santap segenap petaka sepanjang merah sejarah
jalan-jalan beringas
menghisap-patah-longsongkan pegas

memang selalu kami puja dengung lapar
segala rabuk segala amuk srigala
sebab dendam kemarau di gelinjang kelamin
telah gagrak-gasruki gemuruh ruh
ruh malam
hingga badai-hujan meriang
datang
penuh sungsang

“oh! waktu-waktu saru
tikam-lulurkan pejuh
di sekujur tubuh
setubuh!
oh!”

di tangan kami terajah abad gelap
suara-suara kerak yang berderak
serak
puing legenda dan makam-tahta raja
sekalian raja tengkurap
mengutuk-senyap
rayap-sayati mayat
sendiri

lalu lewat gelombang yang usung lindu
rindu maut
kami lahap nyeri bulan
hingga terdengar tangis
ari-ari

“kapal layarkan!
wahai!
sangkal layarkan!”

Puisi W Haryanto
DJATI BENING, 1270
-buat Deni Tri Aryanti

Kesunyianku adalah sebuah jalan: aku belajar
Untuk mencair seperti cahaya, atau bayangan dengan
Baju musim semi dari kulit kerang. Duniaku alir dengan
Penggal ketiadaan yang meniup seruling.
Kutangkap selarik musik dari burung camar, musik yang
Menyeberangkan matahari. Luka memar telah membelah
Jadi bayangan dengan bentuk paruhnya pada bening gelas
Tapi apakah yang bersisa dari mimpi ini?
Isak daun memercik. Dan hutan jati jadi nyata memerangkap
Pengelihatanku. Keterpesonaanku pada sunyi mirip musik lebah
Dan memberi nyawa pada pohon jati. Ingatanku bangkit
Untuk memulai hari, menghirup rasa pahit yang tak selamanya
Kekal oleh kata. Juga doaku membatu di kerongkongan.
Aku mencari jiwa dalam baju musim semi. Sunyi menyanyikan
Musik riangnya. Tapi di manakah jalan-jalan ini mesti
Berakhir, jadi perlambang, di mana aku menginat-ingat
Kembali bagaimana dunia ini pada akhirnya: yang bersisa
Hanyalah angin, dan ingatan, setelah musik sunyi perlahan
Memudar di tepi danau.

(Studio Teater Gapus, 1999)

Puisi Dheny Jatmiko
IBU, LEPASKANLAH BAYANG-BAYANGKU

Aku dengar degup matahari sebagai belati yang lebarkan luka-lukaku. Angin bergerak sendu, ingatanku membiru, bahkan ketika aku sampai pada senja, tubuhku tinggal remang-remang yang tak lagi mampu berucap ratap. Aku adalah kanak-kanak kering yang kian kurus dihisap bayang-bayang, adalah keterasingan, seperti piatu di tengah rintih-rintih gerimis.

O, rasa sakit tujuh turunan, berikan aku ibu agar mampu kueja nama dengan lafal senyaring terompet.

Aku biarkan awan melayang bagai dendam dalam ingatan. Tapi matahari mesti segera pergi, cahaya biru segera runtuh, sebab bayang-bayang kerdilkan tubuh pesakitanku. Bayang-bayangku tak sekadar hitam, tapi adalah teror, serupa hantu, seperti auman di balik gelombang. Aku ingin mimpi tak berbingkai, gambar yang mencatat sejarah dengan kaki-tangan-mulut sendiri: Aku ingin mati suri.

O, ibu, beri aku mantra dan bahasa semurni bayi, agar bayang-bayangku lepas, agar ingatanku terkelupas-retas-rantas.

Yogyakarta, 2009.

Puisi Nanda A Rahmah
TENUNG TUJULAYAR
: para penyihir

musim dimana samudra paling jernih adalah pendendam
yang melihat segalanya telanjang, putih,
adalah cinta.

bukankah duka itu keras seperti segumpal batu di rongga perut
yang lapar? seperti aku mencintaimu. seperti teriakan bocah
di tengah pasar malam. tanpa kepak burung warna-warni.
suara angin berpesta di ujung duniaku. kilauan cahaya
di langit meretak kemarau abadi. menggambar rumah.
kamar yang menyimpan peti mati. jeritanku
menjadi mayat di dalamnya.

“jalan-jalan hanya batu. mata angin hanya batu.”
kebimbangan memilih simpang seperti paksaan
melupakanmu. sederet angka, rambu, menjadi takwil
yang diantar para iblis.
menundukkanku pada debu. debu paling halus.
di gurun terpanjang, matahari seribu abad
semekar telapak tanganmu. kesangsian membingkai gedung-gedung
di kotaku. menjelma kesuraman. mengutuk taman-taman
menjadi jurang. menara kekosongan tempat pendosa teriak. menggapai-gapai.
tak dirahmati penyesalan. menara kegelapan dimana binatang malam
menyesat. seluruhnya buruan. seluruh binatang
yang kelaparan: mangsa kerinduan.

sungguh, di perutmu itu sebuah pulau. kuda-kuda tanpa pelana.
tanpa cambuk, gemerincing lonceng perak. kuda-kuda liar yang gemeretak
kakinya gerak jarum jam. selalu rukuk terpotong
ke kanan. meski, tak ada cinta tahajudmu
untuk salam-salamku yang kafir. tapi saat cuaca turun di bibir
basah, seorang pertapa dengan kereta, tiba. di jubahnya kutulis
namamu sepanjang hening muasal. di roda kereta itu panggilanku
dilindas. dikembalikan ke tanah.

bersama wangi melati, ‘kan kulayarkan kapal menuju perutmu.
lihatlah gemintang, kepala-kepala tertunduk dan terluka. mercusuar
tak menjangkau ke sepianku. kesungguhanku terlindung
ombak gelap. senandung-senandung menarik diri. lolongan-lolongan
memekik. meninggi. lihatlah layar kapalku,
hitam -dosa ketika bumi hanya kenal seekor ular.

o kegaiban. betapa tak kaukenali tubuhku remuk
adalah keputusasaan mimpi menyelami samudra. merasai air mata.
atau darahku telah berubah saat seluruh dunia tenggelam dalam
perang, dusta. aku tewas. di padang panas dalam matamu
aku tewas dengan hujam
bertubi batu ke jantungku!

ranting terus bercabang dan kaki langit tak tahu dimana.
kudapati daun bersetubuh cemas. serambat tangan maut
tak berbentuk. kesabaranku mual. kuning. setan bertudung
memerintah nafsuku. tapi keinginan memelukmu ini adalah wahyu para rasul!
sujudku berloncatan di awan. igauanku bermata kupu melingkar
melanskapi peristiwa. lalu dengan sayap
waktu, kejam, menggunting gaunnya. duka mengeruh.
mengendap di ranjangku. walau bisikmu, “siksa terperih adalah
pelangi yang ditusuk ke pelukan.” tapi
kerlingan mata itu, sajak yang lain. seratus juta rayap di buku jariku
tak ‘kan mengingkar janji
pelayaranku meledakkan api ke perutmu.

Surabaya, 2014

Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.