Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Peristiwa»PLN Jalankan Crash Program 10.000 MW, Hemat Rp 25-30 Triliun per Tahun
Default image

PLN Jalankan Crash Program 10.000 MW, Hemat Rp 25-30 Triliun per Tahun

Peristiwa 22 April 2006

Jakarta (beritajatim.com) – Program percepatan pembangunan pembangkit listrik (Crash Program) berkapasitas 10.000 MW yang dijalankan PT PLN diproyeksikan dapat menghemat Rp 25-30 triliun per tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyatakan bahwa penghematan ini dapat dicapai pada tahun 2008, dengan syarat proyek berjalan sesuai jadwal.

“Penghematan ini merupakan ‘trade off’ dari Crash Program yang sedang dijalankan,” ujar Purnomo dalam pertemuan dengan Forum Wartawan Departemen ESDM (FWESDM), Sabtu (22/4/2006).

Saat ini, akibat tidak adanya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), pemerintah harus mengalokasikan subsidi sebesar Rp 10 triliun per tahun.

Sementara itu, anggaran bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik PT PLN mencapai Rp 42 triliun per tahun. Dengan percepatan pembangunan pembangkit berbahan bakar batu bara, angka ini diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Kesepakatan dengan China untuk Pembangunan PLTU

Dalam kunjungannya mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla ke China, Purnomo mengungkapkan bahwa telah diperoleh sejumlah kesepakatan dengan pihak China. Tiga perusahaan pabrikan dari China siap terlibat dalam proyek percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.

Jika kontrak dapat diselesaikan paling lambat Agustus 2006, maka unit pertama pembangkit diperkirakan sudah bisa beroperasi pada akhir tahun 2008 atau awal 2009.

Menurut Purnomo, yang saat ini sangat dibutuhkan adalah pembangkit berkapasitas 600 MW dan 300 MW, dengan total kapasitas mencapai 6.200 MW. Selain itu, pihak China juga siap membantu pendanaan proyek ini.

“Saya berpendapat bahwa pendanaan harus dicari yang memiliki ‘cost of money’ paling rendah,” kata Purnomo. Saat ini, tim yang dipimpin oleh Menteri Negara BUMN Sugiharto tengah menyusun naskah kerja sama dengan pihak China.

Pembangunan Pembangkit di China Lebih Murah

Berdasarkan penjajakan ke China, Purnomo mengungkapkan bahwa biaya pembangunan PLTU di China lebih murah dibandingkan standar global. Pabrikan China menawarkan harga sekitar 600 ribu Dollar AS per MW, sedangkan di pasar dunia biaya pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara bisa mencapai 1 juta Dollar AS per MW.

“Meski demikian, kami tetap membuka penawaran dari pihak lain,” pungkas Purnomo.

Dengan Crash Program 10.000 MW, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM, menekan subsidi listrik, dan meningkatkan pasokan listrik nasional. Jika proyek ini berjalan sesuai jadwal, manfaatnya akan terasa besar bagi perekonomian Indonesia. (ted)

PLN
Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp

Related Posts

Demi Keselamatan Pasien di Kapal, Gus Ipul Batalkan Dua Agenda

28 Oktober 2017

Polisi Tidur Gagalkan Pencurian Motor di Kedung Cowek

20 Januari 2016

Ratusan Kapal Rakyat di Sampang Berlayar Tanpa Izin

2 Januari 2016
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.