Surabaya (beritajatim.id) – Persatuan Sepak Bola Surabaya atau Persebaya merupakan salah satu klub legendaris Indonesia dengan basis suporter fanatik bernama Bonek.
Berdiri pada 18 Juni 1927 dengan nama awal Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), klub ini menjadi salah satu tonggak sejarah lahirnya PSSI dan perjalanan sepak bola nasional.
Awal Berdiri: Dari SIVB hingga Persebaya
Didirikan oleh M. Pamoedji, Residen Surabaya kala itu, SIVB hadir sebagai wadah pemain pribumi yang ingin bersaing dengan klub Belanda Soerabajasche Voetbal Bond (SVB).
Pada 19 April 1930, SIVB ikut serta dalam pertemuan di Yogyakarta yang melahirkan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), yang kini dikenal sebagai Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.
Seiring perkembangan, SIVB berganti nama menjadi Persibaja (Persatuan Sepak Bola Indonesia Soerabaja) pada 1938, lalu resmi bernama Persebaya Surabaya sejak 1959.
Era Perserikatan: Klub Raksasa Nusantara
Persebaya menjadi salah satu kekuatan besar era Perserikatan bersama PSMS Medan, Persib Bandung, PSM Makassar, dan Persija Jakarta.

Prestasi gemilang ditorehkan dengan juara Perserikatan pada musim 1951, 1952, 1978, dan 1987/88. Selain itu, Persebaya juga lima kali menjadi runner-up, menunjukkan konsistensinya sebagai klub papan atas.
Masuk Era Liga Indonesia
Ketika kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi Liga Indonesia pada 1994, Persebaya tetap menunjukkan taringnya. Meski sempat terdegradasi ke Divisi 1 pada 2002, Bajol Ijo berhasil bangkit dengan menjuarai Divisi 1 pada 2003.
Puncak kebangkitan terjadi pada 2004 ketika Persebaya menjadi juara Liga Indonesia, mempertegas statusnya sebagai klub besar.
Stadion Gelora Bung Tomo: Kandang Baru Bajol Ijo
Sejak 2010, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) menjadi markas utama Persebaya, menggantikan Stadion Gelora 10 November. Dengan kapasitas lebih dari 46 ribu penonton, stadion ini menjadi salah satu ikon olahraga terbesar di Indonesia.
GBT juga telah direnovasi menjelang Piala Dunia U-20 2023, meski ajang itu batal digelar di Indonesia.
Kontroversi: Dari Sepak Bola Gajah hingga Mogok Tanding
Sejarah Persebaya tidak lepas dari kontroversi. Pada musim 1987/88, klub ini pernah terlibat dalam laga terkenal yang disebut Sepak Bola Gajah setelah kalah 0-12 dari Persipura demi menghindari pertemuan dengan rival kuat.
Di era Liga Indonesia, Persebaya juga sempat mogok tanding pada 2002 dan mengundurkan diri dari babak delapan besar Liga 2005. Keputusan itu membuat mereka diskorsing 16 bulan serta mengalami degradasi.
Dualisme Persebaya: Masa Kelam 2010–2017
Tahun 2010 menjadi titik kelam ketika terjadi dualisme Persebaya Surabaya. Konflik bermula dari sengketa keikutsertaan di liga, hingga muncul dua versi klub:
Persebaya 1927, didukung mayoritas Bonek, yang sempat bermain di Liga Primer Indonesia.
Persebaya versi lain yang kemudian berganti nama menjadi Bonek FC, lalu Surabaya United, hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi Bhayangkara FC.
Dualisme ini membuat Persebaya sempat dibekukan keanggotaannya di PSSI. Namun pada Kongres PSSI 2017 di Bandung, Persebaya kembali diakui sebagai anggota resmi.
Kebangkitan: Juara Liga 2 dan Promosi ke Liga 1
Setelah konflik berakhir, Persebaya bangkit di Liga 2 musim 2017. Klub asal Surabaya ini langsung menjuarai kompetisi setelah mengalahkan PSMS Medan di final, sekaligus memastikan tiket promosi ke Liga 1.
Sejak kembali ke kasta tertinggi, Bajol Ijo kembali menjadi salah satu tim kompetitif. Pada musim perdana Liga 1 2018, Persebaya finis di posisi kelima klasemen.
Bonek: Loyalitas Tanpa Batas
Tak bisa dipisahkan dari sejarah klub, Bonek (Bondo Nekat) menjadi salah satu kelompok suporter terbesar dan paling loyal di Indonesia. Mereka dikenal setia mendukung Persebaya, bahkan saat klub mengalami dualisme dan sanksi panjang.
Kreativitas Bonek dalam koreografi stadion, chant, hingga aksi solidaritas sosial menjadikan mereka ikon budaya suporter nasional.
Kesimpulan: Klub Legendaris dengan Sejuta Cerita
Persebaya Surabaya adalah cermin perjalanan sepak bola Indonesia: dari era kolonial, perserikatan, Liga Indonesia, dualisme, hingga profesionalisme modern.
Dengan sejarah panjang, basis suporter militan, dan identitas kuat, Persebaya bukan sekadar klub sepak bola, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Surabaya dan Indonesia. (hdl/sumber)
