Surabaya (beritajatim.com) – Jawa Timur menjadi percontohan dalam upaya pengembangan dan pembudayaan jati diri bangsa. Hal ini terungkap dalam Laporan Perkembangan Tim Pengkajian dan Pembudayaan Jati Diri Bangsa (TPPJDB) Indonesia Jawa Timur di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Senin (18/12).
Dengan tema Karakter/Jati Diri Bangsa: Kekuatan Menghadapi Globalisasi, Ketua Harian TPPJDB Drs I Nyoman Naya Sudjana MA menyampaikan bahwa sejak 2003, Jawa Timur bersama beberapa perguruan tinggi dan Dewan Harian Daerah (DHD) 45 telah menunjukkan kemajuan dalam menanamkan nilai-nilai jati diri bangsa. Sejumlah materi terkait kini telah dapat diintegrasikan dalam beberapa mata kuliah di perguruan tinggi.
“Kami akan terus meminta kepada para dosen di mata kuliah tertentu untuk merumuskan bagian-bagian yang bisa diintegrasikan dengan persoalan jati diri bangsa,” ujar Naya Sudjana.
Naya Sudjana juga menyambut baik langkah ITS yang berencana menerapkan sistem asrama bagi mahasiswa baru selama satu tahun guna memperkuat karakter. Ia menilai kebijakan ini sebagai langkah maju, mengingat beberapa negara bagian di Amerika Serikat juga menerapkan metode serupa dalam membangun karakter mahasiswa.
Rektor ITS, Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan membangun karakter mahasiswa baru agar memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, terutama dalam menghadapi keberagaman suku, agama, dan budaya.
“Melalui asrama, kita akan membentuk karakter mahasiswa baru tentang bagaimana hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat dengan baik di tengah kemajemukan, serta belajar dengan disiplin di ITS,” ungkapnya.
Ia juga mengakui bahwa membangun karakter bukan pekerjaan mudah dan memerlukan waktu panjang. Oleh karena itu, diperlukan keseriusan dan komitmen dari berbagai pihak agar nilai-nilai jati diri bangsa dapat diwariskan dengan baik kepada generasi muda.
Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Fasich, menegaskan bahwa Unair dan ITS telah berkomitmen menjadi pusat pengembangan jati diri bangsa.
“Kami sangat mendukung gerakan pendidikan karakter ini. Harapannya, kita bisa bersama-sama mengembangkan sistem pembelajaran yang mampu menumbuhkan dan menggerakkan kesadaran akan pentingnya jati diri bangsa di lingkungan akademik,” tuturnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan berbagai lembaga terkait, diharapkan program ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun generasi muda yang memiliki karakter kuat dan nasionalisme tinggi. (ted)
