Madiun (beritajatim.com) – Peternak dan pengusaha susu segar di Madiun terancam gulung tikar, hal ini selain disebabkan rendahnya harga jual susu segar dipasaran juga dikarenakan kalah bersaing dengan produsen susu modern.
Pengusaha produsen susu Merim Comeka Madiun Sony, mengatakan usahanya terus mengalami kemunduran jika pada tahun 2000 kemarin ia memiliki sapi perah sebanyak 100 yang mampu menghasilkan 400 liter susu setiapharinya. Kini ia hanya memiliki 17 ekor sapi dan hanya mampu menghasilkan 60 liter susu per harinya.
“Dengan harga jual yang hanya Rp 8.000 per liternya kami kesulitan untuk bertahan pasalnya dengan segitu tidak mencukupi biaya produsi,” ujarnya Jumat(09/04/2010). Kesulitan produsen susu segar juga diperparah dengan menjamurnya susu modern yang beredar dipasaran dengan harga yang berfariasi membuat mereka kehilangan pasar.
Ia menjelaskan jika ingin mendapatkan untung seharusnya susu tersebut dijual dengan harga Rp10.000 per liternya, hal ini dikarenakan mahalnya biaya perawatan sapi terutama untuk pakannya.
Pemilik usaha susu yang sudah berdiri sejak tahun 1942 ini mengaku selain mengurangi jumlah ternaknya juga terpaksa merumahkan sebagian pekerjanya. Langkah tersebut mereka ambil sebagai salah satu tahap sebelum menutup usaha yang sudah berlangsung selama beberpa generasi ini.
Kini para peternak sekaligus produsen susu segar tradisonal ini hanya berharap peran pemerintah untuk bisa menstandarkan harga susu dipasaran. Selain itu, upaya pemerintah untuk turut membantu pemasaran susu segar tradisonal agar tetap bisa bertahan.
