Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jatim Soekarwo mengancam akan menangkap siapa saja yang berani menjual atau mendistribusikan beras impor di Jatim. Pasalnya, stok beras di Jatim masih aman dan melimpah hingga surplus 165 ribu ton.
“Kalau sampai ketahuan penjualnya, jangan macam-macam akan kami tangkap. Jangan sampai beras impor itu dipasarkan di Jatim. Saya hanya mengizinkan beras impor tersebut dibongkar (transit, red) di Jatim, bukan untuk dijual di Jatim,” tegas Gubernur Soekarwo kepada wartawan di gedung negara Grahadi Surabaya, Kamis (9/12/2010).
Gubernur mengakui, memang pihaknya mengizinkan kapal yang mengangkut beras impor tersebut berlabuh di Tanjung Perak Surabaya. Namun izin tersebut hanya sebatas membongkar saja. Setelah dibongkar, beras tersebut dibawa ke daerah tujuan seperti ke Nusa Tenggara Timur (NTT) atau daerah Indonesia Timur.
“Karena kapalnya besar, jadi tak bisa berlabuh di NTT, sehingga dilabuhkan di Tanjung Perak. Jatim tak membutuhkan beras impor tersebut, karena kebutuhan beras Jatim masih aman,” tukasnya.
Menurut Pakde Karwo, selama pembongkaran beras tersebut, bakal diawasi secara ketat dari instansi terkait seperti Polda Jatim dan Pemprov Jatim. “Mulai diturunkan hingga pengangkutan akan diawasi ketat. Saya sudah melakukan pembicaraan bersama Kapolda,” ungkapnya.
Terkait adanya desakan dari Komisi B DPRD Jatim agar beras impor tersebut tidak dibongkar di Pelabuhan Tanjung Perak, Gubernur Soekarwo menyatakan, jika beras menumpuk di kapal malah akan rusak. Selain itu, sudah ada jaminan tidak akan dipasarkan di Jatim.
Menyinggung harga beras yang cenderung naik akhir-akhir ini, Gubernur Soekarwo meminta agar dilakukan operasi pasar beras, yang kini sudah dilakukan di beberapa daerah di Jatim, seperti di Jember. “Harus dilakukan operasi pasar, untuk menekan harga beras di pasaran,” imbuhnya.
Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Ahmad Nur Falakhi mengungkapkan, meski harga beras disejumlah kota sudah mengalami kenaikan, tetapi dipastikan bahwa stok persediaan untuk Jatim sampai saat ini masih tetap aman.
“Saat ini, produksi padi di Jatim mencapai 11.375.779 ton gabah kering giling (GKG). Artinya, jumlah itu masih aman dan mencukupi untuk kebutuhan beras di Jatim. Jadi, meskipun harga beras memang mengalami kenaikan, tetapi stok masih aman,” pungkasnya.[tok/ted]
