Bojonegoro (beritajatim.com) – Proses pembebasan lahan untuk pengembangan lapangan Migas Alastuwo Barat yang masih ikut Blok Cepu hingga saat ini masih mandek. Padahal pihak Exxon Mobil Oil Indonesia (EMOI) melalui anak perusahaannya, Mobil Cepu Ltd (MCL) telah menaikkan penawaran harga lahan menjadi Rp 50 ribu setiap M2.
Manager Land Team (Ketua tim pembebasan lahan) MCL, Deddy Afidick pada saat dihubungi beritajatim.com mengaku, negosiasi lahan di lapangan alastuwo barat yang seluas 15 hektare itu masih belum tuntas. “Negosiasi masih belum tuntas, kami nenawarkan Rp 50 ribu/M2 bersih,” katanya, Sabtu (3/11/2007).
Pembebasan lahan di lapangan Alastuwo barat itu berbeda dari pembebasan lahan di lapangan Banyuurip yang mencapai sekitar 600-700 hektare. Jika pembebasan lahan di lapangan Banyuurip akan digunakan untuk membangun Central Prossesing Fasility (CPF), maka pembebasan lahan di alastuwo barat untuk keperluan pengembangan lapangan migas tersebut.
Namun pembebasan lahan dua tempat tersebut sama-sama mandeg pada proses negosiasi harga. Warga pemilik lahan hingga saat ini masih meminta tanahnya dihargai antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu setiap M2. Namun pihak operator hanya menawar Rp 50 ribu. Bahkan sebelumnya sempat dikabarkan, operator hanya menawar harga sebesar Rp 20 ribu per M2.
Dedy menuding, lahan di Alastuwo barat sebagian besar sudah berpindah kepemilikan akhir-akhir ini. Sebelumnya ia sempat mengatakan, lahan seluas 15 Ha itu pada awalnya dimiliki oleh 29 warga.
Namun pada negosiasi yang dilakukan 2 Oktober lalu, lahan seluas itu kebanyakan sudah pindah tangan dan hanya menjadi 15 pemilik. “Kami berharap, berapapun harga yang nantinya disepakati, akan menguntungkan warga setempat. Bukan pihak luar,” harapnya.[kim/gus]
