Jakarta (beritajatim.com) – Perum Perhutani mengalami kegagalan dalam program penanaman akibat pemanasan global dan perubahan iklim yang tidak menentu.
Target penanaman yang ditetapkan sebesar 35 persen hingga minggu keempat November 2007, namun realisasinya baru mencapai 26.302 hektare atau 13 persen dari total rencana 201.524 hektare.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Perum Perhutani, Transtoto Handadhri, dalam keterangan resminya pada Selasa (4/12/2007).
Hingga saat ini, penanaman yang telah terealisasi mencakup beberapa unit kerja, yaitu:
- Unit I Jawa Tengah: 12.407 hektare (17 persen)
- Unit II Jawa Timur: 9.462 hektare (11 persen)
- Unit III Jawa Barat dan Banten: 4.433 hektare (9 persen)
Perhutani sebenarnya telah menyiapkan 400 juta batang bibit, namun karena musim hujan yang belum stabil, pihaknya masih ragu untuk melakukan penanaman besar-besaran. Hingga saat ini, jumlah bibit yang sudah ditanam di lapangan baru sekitar 40 juta batang.
Perhutani memiliki standar keberhasilan dengan persentase tumbuh tanaman di atas 95 persen. Proses penanaman dilakukan bersama masyarakat desa hutan di 5.600 desa pangkuan yang tersebar di Jawa dan Madura, dengan menggunakan sistem tumpang sari atau sistem banjar harian.
Program ini melibatkan sekitar 2 juta buruh tani hutan setiap tahunnya dan menjadi sumber penghidupan bagi 23 juta jiwa yang bergantung langsung pada usaha budidaya hutan. Selain itu, sekitar 60 juta jiwa mendapatkan manfaat dari efek ganda hasil hutan.
Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa pada akhir Februari 2008, seluruh target penanaman seluas 201.524 hektare akan 100 persen terealisasi di lapangan. Perhutani berharap kondisi cuaca segera stabil agar program ini bisa berjalan sesuai rencana. (***)
