Jombang (beritajatim.com) – Program KB (Keluarga Berencana) yang ada di Jombang belum berjalan sesuai dengan target. Selain disebabkan oleh minimnya tenaga penyuluh di lapangan, kondisi itu juga dipicu oleh pola pikir tradisional yang masih mengakar. Semisal falsafah jawa ‘Banyak Anak Banyak Rejeki’.
Edi Suyanto, Kepala Bidang KB, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) menyebut, jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) di Jombang mencapai 60 ribu pasangan. Dari jumlah itu, 11,54 persen diantaranya adalah pasangan unmet need (pasangan tidak ikut program KB).
“Jadi pasangan unmet need itu sebesar 28 ribu,” kata Edi menjelaskan, Jumat (9/4/2010).
Menurut Edi, jumlah tersebut masih tinggi. Pasalnya, BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) mematok lima persen atau 10 ribu pasangan unmet need dalam satu daerah tertentu. Edi menambahkan, akan lebih baik jika pasangan PUS tapi tak ikut KB itu ditekan lebih kecil.
Rendahnya peminat KB di Jombang itu bukan berjalan dengan sendirinya. Namun ada beberapa factor yang mempengaruhinya. Yakni, tingkat sumberdaya manusia yang masih rendah, dan masih lekatnya pola fakir tradisional.
“Masyarakat masih percaya dengan ungkapan lama ‘banyak anak banyak rizki, padahal hal itu tidak menjamin,” tambahnya.
Selain factor tersebut, Edi menyebut, keterbatasan tenaga penyuluh juga menjadi pengganjal laju pencapaian target program KB di daerah. Di Jombang, penyuluh KB pada tahun ini jumlahnya hanya 100 orang, padahal tahun sebelumnya jumlah itu mencapai 150 petugas.
“Idealnya, satu petugas penyuluh membawahi dua desa. Namun karena jumlahnya tidak cukup, maka seorang petugas membawahi lebih dari jumlah ideal itu,” pungkas Edi.
