Tuban (beritajatim.com) – Aksi nampang yang beberapa kali dilakukan oleh kalangan DPRD Kabupaten Tuban disayangkan oleh lembaga pendamping korban, Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban.
Sebab, disaat para korban menahan malu dan kesakitan dibagian alat vitalnya, serta psikologis yang masih terguncang, dengan serta merta perwakilan rakyat itu menampakkan diri.
Kepada beritajatim.com, Jumat (9/4/2010), Direktur KPR Tuban, Nunuk Fauziyah menyampaikan unek-uneknya. Pihaknya mengaku kurang respon dengan aksi para wakil rakyat tersebut.
“Kami sempat mempertanyakan kedatangan mereka mendatangi korban di rumah sakit,” kata Nunuk.
Ia mencontohkan, saat salah satu siswa SD asal Pelumpang, sebut saja Ika (12) yang menjadi korban perkosaan orang tak dikenal sudah berhasil divisum, ada anggota dewan yang datang.
“Tidak usah sebut nama, yang jelas hal itu ada dan kami menilai cukup mengganggu untuk pemulihan psikologi korban,” terangnya.
Menurutnya, kalau memang ingin bantu keluarga korban atau memberikan support moril, pihaknya sudah beberapa kali menyarankan agar dilakukan beberapa waktu setelah korban sudah mulai tenang.
Sebab, sesaat pasca menjadi korban, biasanya anak-anak lebih sensitif dan mereka menderita tekanan mental yang hebat. “Jangankan ketemu laki-laki, ketemu kita yang pendamping saja ketakutan,” sambungnya.
Oleh karena itu, ia meminta pengertian semua pihak, agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi kedepannya. Pihaknya juga berterima kasih dengan perhatian dari dewan, tetapi ada cara yang lebih tepat, khususnya mengenai waktu.
“Selain dewan, pihaknya juga menyarankan kepada semua pihak, agar ikut membantu mempercepat proses pemulihan korban pencabulan maupun pemerkosaan,” lanjutnya.
