Jombang (beritajatim.com) – Dugaan malapraktik kembali terjadi di Jombang. Kali ini menimpa Zainal Arifin, 38 tahun, warga Dusun/Desa Ngampungan Kecamatan Bareng, Jombang. Zainul tewas usai diberi pertolongan oleh bidan desa setempat, Sutami. Pada mulut Zainul keluar busa hingga akhirnya meregang nyawa.
Informasi di lapangan menyebutkan, semua itu berawal ketika Zainul menderita sakit kepala Sabtu lalu. Oleh isterinya, Anik Zulaikah, dia dipanggilkan bidan desa setempat. Namun ironis, usai dilakukan pemeriksaan sekitar pukul 15.00, pria yang memiliki tiga anak ini kondisinya malah drop.
Tubuhnya menggigil dan dari mulutnya keluar cairan seperti busa. Sekitar sepuluh menit kemudian, dia malah menghembuskan nafas terakhir. Diperoleh informasi, bila upaya pertolongan medis tersebut dengan memberikan suntikan.
Sekretaris Desa Ngampuingan, Rohmatin Nikmah, membenarkan bila warganya ada yang meninggal dunia setelah diberi pertolongan oleh bidan. Bahkan saat diketahui kondisi Zainal semakin drop, pihak keluarga pun memberitahukan kepada bidan tersebut. Namun oleh bidan desa itu justru disarankan untuk memberikan cairan alkohol ke sekujur tubuh.
“Hanya sekitar sepuluh menit, sudah meninggal dunia, kasihan, dia baru sehari tidak bekerja karena merasa tidak enak badan, tapi akhirnya meninggal dunia,” katanya, Rabu (7/4/2010).
Pernyataan senada juga disampaikan Kepala Desa Ngampungan, Suherno. Karena itulah dia akan segera membuat solusi terbaik tanpa mengedepankan emosi. Sebenarnya, ia sudah melakukan komunikasi dengan bidan dimaksud beserta suaminya. Dari hasil komunikasi itu sempat tertuang rencana untuk memberikan santunan uang duka kepada keluarga korban.
”Tapi itu baru rencana yang disampaikan suaminya, keputusan itu menunggu 7 harinya, sambil meredam emosi warga,” tegas Suherno.
Sementara itu bidan Sutami ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya tidak bersedia memberi keterangan. Namun diperbincangan awal, dia sempat menyebut baru pulang dari Dinas Kesehatan Jombang. “Maaf saya baru dipanggil Dinas Kesehatan. Saat ini saya tidak bisa menjelaskan,” kata Sutami berdalih.
