Jakarta (beritajatim.com) – Polri didesak segera menangkap sekitar 500 pemain dan mantan pemain asing ISL dan IPL yg berkeliaran di Indonesia.
“Sebab keberadaan mereka bisa mengganggu kamtibmas, apalagi sebagian besar para pemain asing itu kini main di antar Kampung (Tarkam) yang bisa menghilangkan lapangan kerja bagi para pemain lokal tingkat kampung,”kata Neta S Pane Presidium Police Watch dalam rilisnya yang dikirimkan ke beritajatim.com, Senin (31/12/2012).
Indonesia Police Watch (IPW) menduga ijin tinggal para pemain asing itu sudah habis dan mereka tidak memiliki ijin kerja. Namun mereka akan dikaryakan di Kompetisi Sepakbola Liga Super Indonesia (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI).
Berkaitan itu IPW mengibau Polri agar tidak memberi ijin penyelenggaraan ISL dan IPL karena mengkaryakan pemain asing yg tidak memiliki ijin tinggal dan ijin kerja.
“IPW memperkirakan ada sekitar 330 pemain asing yang bercokol di setiap musim kompetisi di Indonesia. Untuk Liga Super (ISL dan IPL) ada 150 pemain asing dan untuk Divisi Utama ada 180 pemain asing,”katanya.
Hingga saat ini kompetisi sudah berlangsung 14 musim. Setiap musim rata-rata bertambah 20-30 persen pemain asing. Sehingga diperkirakan sedikitnya ada 500 pemain asing di Indonesia saat ini. Pertanyaannya, apakah jika tidak ada kompetisi, para pemain asing itu kembali ke negaranya?
“Apakah jika mereka tidak dipakai lagi oleh klub-klub di ISL dan IPL mereka pulang ke negaranya?”tanya Neta.
Ternyata tidak. Para Pemain Asing itu tetap berkeliaran di Indonesia. Sebagian, besar main di Tarkam. Sebagian dari mereka menjadi orang terlantar karena gajinya tak kunjung dibayar klub di ISL dan IPL.
Untuk itu IPW mendesak POA (Pengawasan Orang Asing) Polri
segera memburu dan menangkap mereka, untuk kemudian mendeportasinya.
Tujuannya agar para pemain asing itu tidak menjadi Manusia Terlantar di Indonesia, yg akan menggangu kamtibmas dan membuat keresahan bagi pemain lokal.
Selain itu, sebagai pemain profesional para pemain asing itu diduga tidak membayar pajak penghasilan. Sementara Direktorat Pajak begitu rajin memburu pajak dari rakyat kecil, seperti warteg yang sempat digagas akan dikenakan Pajak.Tapi kenapa para pemain asing ini dibiarkan tidak membayar pajak?.[ted]
