Surabaya (beritajatim.com) – Begitu tiba di RS Bhayangkara Polda Jatim, ketiga jenazah TKI asal Madura langsung dibawa ke ruang otopsi. Ketiga jenazah Sanu, Muklis dan Musdi ini langsung menjalani otopsi.
Pelaksanaan otopsi berlangsung tertutup. Otopsi dipimpin langsung Dr Hery. Sementara keluarga korban menunggu di luar.
Saat itulah, Safiudin, salah seorang kerabat mengatakan bahwa ketiga temannya itu ditembak polisi Malaysia.
“Ketiganya ditembak polisi Malaysia karena dituduh sebagai geng gundul dan melakukan perlawanan saat akan ditangkap,” ujar Safiudin.
Safiudin lalu menuturkan kronologis peristiwa yang dialami ketiga TKI tersebut. “Ketiganya yakni Abdul Sanu, Muklis dan Musdi ini ditangkap tanggal 16 Maret sekitar jam 1 dinihari,” katanya.
Waktu itu lanjutnya, ada 3 orang lagi yang ditangkap polisi Malaysia. “Selain Sanu, Muklis dan Musdi, ada 3 orang lagi yang ditangkap. Mereka adalah Marzuki, Solifudin dan Bakir,” terangnya.
Selanjutnya, ke-6 TKI tersebut dimasukkan mobil. “Sanu, Muklis dan Musdi ini satu mobil. Sementara Marzuk, Solifudin dan Bakir satu mobil,” terang pria berusia 40 tahun ini.
Setelah itu, tiba-tiba saja dirinya mendapat kabar bahwa Sanu, Musdi dan Muklis tewas ditembak. “Kata polisi Malaysia, ketiganya ditembak di Kuala Selanggor karena berusaha melawan polisi,” ungkapnya.
Seusai penembakan tersebut, polisi Malaysia menunjukkan barang bukti2 buah pistol dan 2 buah parang. “Sementara tiga TKI lainnya Marzuk, Solifudin dan Bakir masih ditahan di kantor polisi Malaysia,” katanya.
Seusai ditembak, jenazah Sanu, Muklis dan Musdi langsung diterbangkan ke Indonesia dengan pesawat Malaysia Airlines.
