Close Menu
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
  • Beranda
  • Berita Terbaru
  • Arsip
  • Network
    • Beritajatim.ID
    • Visual
    • Sastra
    • UKM
    • Pilar.ID
  • Kontak
arsip.beritajatim.comarsip.beritajatim.com
Home»Peristiwa»Peserta Lintas Alam di Kediri Tewas, Keluarga Kecewa Panitia
Default image

Peserta Lintas Alam di Kediri Tewas, Keluarga Kecewa Panitia

Peristiwa 19 Maret 2012

Kediri (beritajatim.com) – Seorang peserta Kegiatan Lintas Alam Semen-Besuki (LASKI) untuk merayakan hari Jadi Kabupaten Kediri tewas setelah terjatuh di sungai. Dinda Septa Cahyanti (16) pelajar kelas X SMA Negeri 1 Gurah meregang nyawa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran, Kota Kediri.

Keluarga Dinda kecewa terhadap peran serta serta panitia yang lamban dalam memberikan pertolongan. Mereka meminta supaya agenda tahunan itu dievaluasi, agar tidak jatuh korban kembali dikemudian hari.

“ Ini adalah musibah dan kami iklas menerimanya. Tetapi, panitia seharusnya bisa memberikan pertolongan secara cepat,” ujar Edi Purwanto, paman Dinda, Senin (19/03/2012)

Kegiatan LASKI sendiri dilaksanakan pada Minggu (18/03/2012) kemarin. Dinda turut serta sebagai panitia bersama teman-teman sekolahnya. Musibah yang dialami gadis asal Jalan Garuda, Kelurahan Pare, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu bermula saat dia hendak menyeberangi Sungai Bruno

Tiba-tiba Dinda terjatuh dalam kondisi duduk. Kemudian, dia ditolong oleh teman-teman sesame peserta dan anggota TNI yang bertugas membantu penyeberangan. Dinda dibawa ke posko kesehatan, kemudian dilanjutkan ke Puskesmas Semen. Tetapi karena kondisi Dinda semakin memburuk, kemudian dirujuk ke RSUD Gambiran Kota Kediri.

Dinda sempat menjalani perawatan medis selama beberapa jam. Akhirnya dia meninggal dunia sekitar pukul 19.00 WIB. Informasi yang diperoleh, saat dilarikan ke rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri itu tekanan darah korban mencapai 140 mmHg dan suhu badannya hingga 40 derajat celcius. Bahkan, dia sempat kejang-kejang

Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan diketahui Dinda mengalami CVA breeding atau pendarahan pada pembuluh darah otak. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi akibat kelelahan. Proses pemulangan jenazah Dinda dilakukan Senin (19/03/2012) pagi. Selanjutnya, dilakukan pemakaman oleh pihak keluarga

Dikonfirmasi mengenai musibah yang dialami Dinda, Ketua Panitia LASKI Adi Laksono membantah mengambaikan keselamatan korban. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri itu menegaskan sudah mempersiapkan system pengamanan yang ketat yakni dengan menempatkan personel di 11 posko yang berada di sepanjang jalur lintas alam, 25 mobil puskesmas keliling

Adi Laksono beralasan, karena kondisi medan yang sulit terjangkau. Sehingga pergerakan mobil puskesmas keliling itu juga mengalami kendala.” Bukan karena lamban. Tetapi, karena memang medannya yang sangat sulit dijangkau,” jawab Adi Laksono

Baik panitia maupun Pemkab Kediri sudah menunjukkan apresiasinya dengan mendatangi keluarga korban. Panitia juga bakal memberikan santunan sebesar Rp 1,25 juta dan tengah mengurus asuransi korban

Terpisah, Kepala SMAN 1 Gurah, Sayuk Pitoyo mengatakan, musibah yang menimpa Dinda akan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk melepaskan siswanya ikut dalam kegiatan tersebut. (nng/ted)

Kediri
Share. Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email WhatsApp

Related Posts

Demi Keselamatan Pasien di Kapal, Gus Ipul Batalkan Dua Agenda

28 Oktober 2017

Polisi Tidur Gagalkan Pencurian Motor di Kedung Cowek

20 Januari 2016

Ratusan Kapal Rakyat di Sampang Berlayar Tanpa Izin

2 Januari 2016
Poster
Cari Data
© 2025 beritajatim.com | arsip berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.