Kediri (beritajatim.com) – Seorang peserta Kegiatan Lintas Alam Semen-Besuki (LASKI) untuk merayakan hari Jadi Kabupaten Kediri tewas setelah terjatuh di sungai. Dinda Septa Cahyanti (16) pelajar kelas X SMA Negeri 1 Gurah meregang nyawa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran, Kota Kediri.
Keluarga Dinda kecewa terhadap peran serta serta panitia yang lamban dalam memberikan pertolongan. Mereka meminta supaya agenda tahunan itu dievaluasi, agar tidak jatuh korban kembali dikemudian hari.
“ Ini adalah musibah dan kami iklas menerimanya. Tetapi, panitia seharusnya bisa memberikan pertolongan secara cepat,” ujar Edi Purwanto, paman Dinda, Senin (19/03/2012)
Kegiatan LASKI sendiri dilaksanakan pada Minggu (18/03/2012) kemarin. Dinda turut serta sebagai panitia bersama teman-teman sekolahnya. Musibah yang dialami gadis asal Jalan Garuda, Kelurahan Pare, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri itu bermula saat dia hendak menyeberangi Sungai Bruno
Tiba-tiba Dinda terjatuh dalam kondisi duduk. Kemudian, dia ditolong oleh teman-teman sesame peserta dan anggota TNI yang bertugas membantu penyeberangan. Dinda dibawa ke posko kesehatan, kemudian dilanjutkan ke Puskesmas Semen. Tetapi karena kondisi Dinda semakin memburuk, kemudian dirujuk ke RSUD Gambiran Kota Kediri.
Dinda sempat menjalani perawatan medis selama beberapa jam. Akhirnya dia meninggal dunia sekitar pukul 19.00 WIB. Informasi yang diperoleh, saat dilarikan ke rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri itu tekanan darah korban mencapai 140 mmHg dan suhu badannya hingga 40 derajat celcius. Bahkan, dia sempat kejang-kejang
Kemudian setelah dilakukan pemeriksaan diketahui Dinda mengalami CVA breeding atau pendarahan pada pembuluh darah otak. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi akibat kelelahan. Proses pemulangan jenazah Dinda dilakukan Senin (19/03/2012) pagi. Selanjutnya, dilakukan pemakaman oleh pihak keluarga
Dikonfirmasi mengenai musibah yang dialami Dinda, Ketua Panitia LASKI Adi Laksono membantah mengambaikan keselamatan korban. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri itu menegaskan sudah mempersiapkan system pengamanan yang ketat yakni dengan menempatkan personel di 11 posko yang berada di sepanjang jalur lintas alam, 25 mobil puskesmas keliling
Adi Laksono beralasan, karena kondisi medan yang sulit terjangkau. Sehingga pergerakan mobil puskesmas keliling itu juga mengalami kendala.” Bukan karena lamban. Tetapi, karena memang medannya yang sangat sulit dijangkau,” jawab Adi Laksono
Baik panitia maupun Pemkab Kediri sudah menunjukkan apresiasinya dengan mendatangi keluarga korban. Panitia juga bakal memberikan santunan sebesar Rp 1,25 juta dan tengah mengurus asuransi korban
Terpisah, Kepala SMAN 1 Gurah, Sayuk Pitoyo mengatakan, musibah yang menimpa Dinda akan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk melepaskan siswanya ikut dalam kegiatan tersebut. (nng/ted)
