Ngawi (beritajatim.com.com) – Banjir yang melanda Kabupaten Ngawi sejak Senin (10/3/2008) akibat luapan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun semakin meluas. Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) menetapkan status siaga III akibat kondisi yang semakin mengkhawatirkan.
Menurut Koordinator Satlak PBP Kabupaten Ngawi, Muhammad Shodiq Tri, Selasa (11/3/2008), jumlah rumah warga yang terendam banjir telah mencapai 300 unit di enam kecamatan. “Data sementara yang masuk tadi malam menyebutkan ada 172 rumah yang terendam. Namun, berdasarkan laporan dari masing-masing kecamatan melalui radio, jumlahnya bertambah hingga 300 rumah. Pagi ini kami akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan,” ujarnya kepada media.
Debit air di dua sungai utama, Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, masih tergolong tinggi. Berdasarkan pemantauan di Dungus, ketinggian air Bengawan Madiun mencapai 9,5 meter, sementara di Ngunengan, ketinggian air Bengawan Solo mencapai 8,5 meter, yang berarti sudah melewati batas normal.
Wilayah terdampak banjir akibat luapan Bengawan Solo meliputi Kecamatan Mantingan dan Karanganyar. Sementara itu, luapan Bengawan Madiun menyebabkan banjir di Kecamatan Kwadungan, Geneng, Pangkur, dan Kota Ngawi. “Ngawi adalah titik pertemuan dua sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Jika keduanya meluap, maka proses surutnya berjalan sangat lambat. Hal ini menyebabkan banyak warga yang harus dievakuasi karena air belum juga surut,” tambahnya.
Selain merendam permukiman, banjir juga menggenangi areal persawahan yang siap panen maupun padi yang baru saja ditanam, terutama di Kecamatan Kwadungan, Mantingan, dan Karanganyar. Untuk membantu evakuasi warga, Satlak PBP telah menyiapkan perahu karet yang didistribusikan ke daerah rawan banjir. Bantuan logistik berupa sembako juga telah mulai disalurkan kepada warga terdampak.
“Jika hari ini tidak turun hujan, kemungkinan besar air akan segera surut, sehingga aktivitas masyarakat, termasuk perekonomian, dapat kembali normal,” jelasnya.
Banjir yang melanda Ngawi pada akhir 2007 hingga awal 2008 sebelumnya telah menyebabkan ribuan hektare sawah terendam, menelan korban jiwa sebanyak 23 orang, serta menimbulkan kerugian materi yang ditaksir mencapai Rp 70 miliar.
Dalam upaya membantu korban banjir, Pangdam V/Brawijaya Mayjen Bambang Suranto menyatakan pihaknya akan mengirim tim medis ke wilayah terdampak, termasuk Ngawi dan Bojonegoro.
“Kami sedang menyiapkan tim medis untuk segera dikirim ke Ngawi dan Bojonegoro. Dampak banjir terhadap kesehatan masyarakat mulai terlihat, sehingga tim medis perlu segera dikerahkan,” ungkapnya.
Dengan dikirimnya tim medis ini, diharapkan korban banjir yang mengalami gangguan kesehatan dapat segera mendapatkan penanganan medis yang memadai. (ted)
